Seseorang bisa disebut mampu merasakan sesuatu, jika seseorang tersebut juga pernah merasakan sesuatu yang berkebalikan dengannya. Contohnya, ketika seseorang bisa tahu itu adalah perasaan senang, dia pasti pernah merasakan perasaan sedih, karena dia bisa membandingkan seperti apa "senang" itu dan seperti apa "sedih" itu
Sama halnya juga ketika seseorang bisa menyebut dirinya "sakit", itu karena ada hal yang berbeda dengan yang dia rasakan saat dia merasa "sehat"
Lalu, bagaimana dengan anda?mungkinkah anda bisa menyebut diri anda"kaya" sedangkan anda belum pernah tahu "miskin" itu seperti apa, mungkin saja anda sebenarnya "kaya" dalam kemiskinan, iya bukan?
Penjelasan saya ini bukan berarti anda harus miskin dulu untuk bisa menyebut anda "kaya", bukan, ini hanya hakikat saja, semoga tidak salah tafsir, bukan bermaksud saya mengajak untuk berpindah haluan terhadap sesuatu yang belum pernah anda jalani, tapi cuma untuk merefleksikan diri di cermin dunia ini, apakah sudah sewajarnya kita benar ataukah bukan, karena justru yang menjadi pertanyaan yang masih mengganjal di hati saya, adalah ketika kita seenaknya menyebut kita "hidup" padahal kita belum pernah merasakan "mati"?
Benar bukan sampai sekarang inilah yang dinamakan hidup, ataukah kita selama ini hidup namun dalam kematian?
Kalau anda penasaran dengan jawabannuya, sebenarnya muara jawabanya adalah pada diri anda sendiri, coba sering saja mengingat kematian, karena dengan sering mengingat kematian, kita tidak merasa hidup ini tidak ada batasanya, kita bisa menjadi berhati-hati, sehingga pada akhirnya kita bisa berpikir bahwa justru bukan "hidup" yang memberi makna terhadap kehidupan itu, melainkan kematian

Tidak ada komentar:
Posting Komentar