Pages

Silence is Better

Dalam sebuah hadist yang terkenal, ada sebuah pelajaran yang bisa kita serap

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih)

Menjaga lisan bisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan berkata baik atau kalau tidak mampu maka diam. Dengan demikian diam kedudukannya lebih rendah dari pada berkata baik, namun masih lebih baik dibandingkan dengan berkata yang tidak baik, Logikanya seperti itu, ini mengindikasikan bila seseorang bisa berkata dengan perkataan yang baik, menyampaikan risalah yang bermanfaat sama halnya dengan menjaga lisannya dari sesuatu yang buruk.

Seringkali kita. kita sendiri, jangan merujuk pada orang lain, terbiasa pada sebuah kondisi dimana kita sangat nyaman sekali membicarakan kejelekan orang lain, bahkan merasa diri kita lebih dari yang orang punya, padahal dalam sebuah riwayat yang masyhur diceritakan suatu ketika ada seseorang alim yang bertemu dengan pendosa yang hendak bertaubat, ketika mendengar berita tersebut si alim dengan kesombongannya berujar, "Demi Allah, dosa kamu tidak akan terampuni"
Tatkala ucapan tersebut keluar dari mulut si alim, Allah berfirman "Siapa yang berani bersumpah mendahului-Ku bahwa aku tidak akan Memaafkan seseorang, maka -ketahui- bahwa Aku telah ampuni orang itu..
... dan Aku gugurkan semua pahala amalmu"

Maka, ketika kita mendengar cerita tersebut, harusnya sebagai insan yang diberi kenormalan, baik normal badan maupun pikirnya, kita akan merasakan nyeri yang mendalam. Karena dari bualan lisan yang kadang tak sesengaja terjaga, dampaknya akan bergitu kontras. Sungguh mengerikan !

Dalam lanjutan hadist tersebut yaitu Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamunya

Muhammad Irsyad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar