Bolehlah saya menyebut diri saya ini adalah seorang yang buruk, karena saya sendiri yang tahu betapa buruknya saya, dalam waktu yang berlainan, saya merasa bisa menjadi dua bagian yang sangat berbeda. Dikotomi sifat ini membawa pengaruh, karena pada suatu waktu, saya bisa menjadi manusia yang baik pada umumnya, dan pada waktu yang lain, saya bisa menjadi manusia terburuk dari yang pernah ada, itu saya.
Tepatnya, April 2014 lalu, ada sms dari imam yang menanyakan kabar saya, oya, imam ini adalah teman MAN 2 Kudus dulu, kuliahnya di STAIN KUDUS, pernah mondok juga waktu sekolah, basa-basi ngobrol bla bla bla sampai pada suatu ketika, dia menanyakan saya apakah sudah bekerja belum?
saya menjawab belum, kemudian dia memberitahukan bilamana ada sekolah di daerah Gebog (kecamatan) yang membutuhkan guru biologi (infonya dari ustad Ulin Nuha), kemudian sejenak nafasku berhembus...
2 hari kemudian imam sms lagi, apakah sudah saya Follow-up pesan yang kemarin, saya bingung, tetapi ada sebuah seruan dari hati untuk melangkah, akhirnya saya minta no hape ust. Ulin waktu itu untuk tanya-tanya dan apa saja yang dipersiapkan untuk mendaftar di sana.
Jam 10.00 WIB tepat sampai saya di Madrasah yang ternyata merupakan Pondok Tahfidz (penghafal Al-Qur'an) bernama Yanbu'ul Qur'an, Madrasah ini merupakan yayasan Arwaniyyah, yang dimana nama-nya diambil dari Ulama besar terkemuka di Kudus, KH. Arwani Amin. Pimpinan pondok nya bernama Pak Manshur, yang menurut saya, memiliki jiwa pemimpin dan kharisma yang berbeda dari kyai kebanyakan, butuh waktu hanya sekitar 30 menitan dengan beliau, untuk membuka sejarah baru hidup saya
Sebagaimana pondok Tahfidz yang menghapal Al-Qur'an, kegiatan pondok adalah menghafalkan Al-Qur'an, tidak ada kitab yang lain. Pembelajaran mapel di kelas dilaksanakan pada pagi hari jam 7 sampai jam 13.00 siang, setelah itu semua buku ditutup dan para santri kembali ke Pondok untuk menghafalkan Al-Qur'an. Halaqah dilaksanakan sehabis ashar dan malam hari ada kegiatan Belajar Malam mapel UN lagi di kelas dari jam 20.00 sampai 21.00 WIB. Bangun sebelum subuh dan memulai halaqah lagi. Dari kelas 7 MTs untuk naik ke kelas 8 MTs santri menghafal 5 Juz, begitu seterusnya tiap naik satu tingkat, harus hafal 5 Juz, sehingga pada waktu kelas 12 MA, semua santri sudah hafal 30 Juz.
Sampai pada tulisan ini saya buat, (yakni UAS pertama saya mengajar), saya masih bertanya-tanya, tentang rencana Allah yang dipersiapkan buat saya, karena saya tidak pernah membayangkan sebelumnya saya bisa menjadi bagian para Waliyullah (anak-anak penghapal Al-Qur'an ini ), di tempat yang menurut Ibu saya adalah "Maqoman Mahmudan" atau tempat yang terpuji. Ini karena saya merasa diri saya masih sebagai manusia yang buruk, bila disandingkan dengan mereka-mereka yang kini menjadi murid saya, padahal saya adalah gurunya.
Pada akhirnya, keadaan memaksaku menyadari, patutlah saya untuk "berkhusnudzon" pada Sang Maha Cinta terhadap beribu karunia yang tak terduga, saya belajar banyak disini untuk lebih dari seorang guru, tapi juga turut memperbaiki senyawa buruk yang mengalir melalui urat nadi, untuk lebih sering dekat dengan Firman-firmanNya dalam Al-Qur'an, untuk membuka tabir rahasia perjalanan hidup ini, dengan melangkah menuju yang lebih baik. (12/7/2014, 2:05 AM.)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar