Pages

Bicara tentang Pengalaman

Seseorang pernah berkata kepada saya, bahwa kita tidak pernah bisa memberikan yang terbaik untuk segala yang pertama, dulu, dengan kalimat ini, saya anggap hanyalah seperti angin berlalu, tapi sepertinya saya yang keliru

Setidaknya saya  mengalaminya ketika PERTAMA kali mengajar. Saya menyadari satu hal, yaitu pengalaman adalah guru yang paling berharga. Bukan tentang bagaimana strategi yang kamu pakai, atau dengan metode dan teori menumpuk yang terpajang memenuhi binder kuliah dulu, faktanya, untuk mengkondisikan kelas, haruslah memiliki keahlian khusus, dan tidak setiap orang memiliki kemampuan tersebut. Boro-boro berpikir mau pake strategi yang ini ah, model pembelajaran yang seperti ini, mau pake kuis hmm..... kalo kelas masih berantakan, mau dibawa kemana arusnya. Hari pertama berjalan normal, hari kedua agak mendingan, hari ketiga keempat dan seterusnya, semuanya sudah nampak berbeda. Lihat betapa ekspresi mereka, ada yang bermain, ada yang ngantuk dan bahkan tertidur meskipun 1, 2 ada yang serius memperhatikan. Pake strategi apa? Model? Teknik? LUPAKAN DULU !!! Bisa membuat mereka 100% memperhatikan mah udah syukur banget !



Belum lagi tentang penguasaan materi yanggggg ya.... taulah biologi seperti apa luasnya. Saya cinta pelajaran ini, dan ternyata dengan cinta saja tidaklah cukup. Untuk menyampaikan materi, saya bahkan harus menyiapkan jauh hari dalam buku kuning (prospek catatan untuk beberapa tahun mendatang), menulisnya, memahaminya dan setelah semuanya nampak siap, barulah saya berani untuk menjelaskannya di kelas. Dan untuk selanjutnya,  ternyata tidak semudah yang di bayangkan juga. Kadang terdiam sendiri ketika mereka menggerakkan pena untuk menulis, kadang terlihat canggung berdiri sebagai protagonis di kelas dan masih banyak kadang-kadang yang lainnya. 
Meskipun sudah sekuat tenaga saya mempersiapkan, tetap masih saja ada bagian-bagian yang kurang yang belum saya jelaskan, itu karena apa? kurang pengalaman. Bandingkan dengan guru-guru yang sudah 15tahunan mengajar, bagaimana beliau ini sudah fasih bener untuk memetakan materi yang substansial, sudah tahu bagaimana mengkaitkan materi yang ini dengan yang itu, sudah hapal betul dengan soal-soal yang biasa keluar dan sudah sudah yang lain tentunya. Pada akhirnya saya pun termenung dan mengangguk angguk seorang diri, saya terdiam namun berkata dalam hati, bahwa kadang benar, kita tidak pernah bisa memberikan yang terbaik untuk segala yang pertama.

Tapi hidup haruslah maju, sadar untuk terus belajar,  biar seiring berjalannya waktu, pengalaman-pengalaman itu menumpuk, maka kamu akan semakin bisa memperbaiki segala hal yang pertama, untuk menyempurnakan bagian yang perlu dipoles kembali dan untuk menjadi yang lebih lebih lebih baaaaaaik lagi.
Okey, untuk satu tahun pertama ini, terima kasih untuk kesannya, kamu adalah pengalaman yang berharga ! 

Oya, untuk cinta yang pertama juga !


Muhammad Irsyad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar