Terdorong oleh semangat yang bertubi-tubi untuk menulis lagi, karena sudah sekian lama jari ini tidak bermain indah untuk menekan tombol keyboard. Selain itu juga didasari oleh rasa takut akan kemampuan magis saya yang bisa saja tereduksi perlahan-lahan. sudah !
Kesibukan yang baik itu lebih baik dari daripada tidak ada kesibukan. Karena pada dasarnya, manusia kalau tidak disibukkan dengan sesuatu yang baik, waktunya akan tergunakan oleh hal-hal yang buruk. Kata "tergunakan" mungkin saja dalam karena seseorang itu tidak sadar bahwa waktunya tiba-tiba hilang dengan sendirinya, ironisnya untuk sesuatu yang tercela. Alhamdulillah satu tahun penuh adaptasi, menguras energi, menguras hati (galau tingkat tinggi) sudah terlalui. Kegiatan sibuk insyAllah ini semoga membawa saya menuju ke arah yang lebih baik dari tahun sebelumnya dimana masih itu-itu saja. Senin-Selasa kuliah di semarang, sorenya pulang. Rabu pagi sudah harus dinas ngajar di MTs-MAS Tahfidz Yanbu' Menawan. Kamis dan Ahad Sore ganti ngajar Diniyyah di Madin Mazroatul Ulum, Madinnya Yi Khamid. Itu masih belum Malam Jumat nya untuk kumpulan rutin. Alhamdulillah :)
Ramadhan 1436 H telah usai, kali ini tiba acara dimana saya, Mbak Yulia dan suaminya, Mas Barri dan adik saya, Nova berkunjung ke beberapa sanak saudara dari keluarga Ibuk. Waktu itu pukul 16.00 WIB tepat pada 2 Syawal, kami bersilaturahim ke rumah Pak Ali Usman. Beliau ini adalah kepala Madrasah dimana Mbak Saya dulu ngajar sebelum mbak memutuskan untuk mundur terhitung 2 bulan dari ini, karena mau ikut suaminya ke Semarang. Kami bersalaman sebelum Abah (biasa Mbak menebutnya) mempersilahkan duduk. Dengan menyungging senyumnya, Abah ngalor ngidul bercerita banyak tentang pengalaman hidup yang pada akhirnya saya sadur beberapa petuah-petuahnya.
Cobaan terberat seorang manusia yang mau berbakti kepada Orang tuanya adalah ketika Orang tuanya sakit. Mak jleb ! karena posisi kami sekeluarga memang lagi banyak cobaannya, Ibuk dan Bapak berulang kali kontrol dan dibawa ke RS Kariyadi Semarang. Abah menceritakan dulunya ketika Ibuk beliau sakit, tidak bisa jalan, beliau sendiri yang membopongnya. Sangat berat ! kata beliau....tapi harus
Ikhlas dalam birrul walidain itu sulit, tapi kalau gak ikhlas, jadi azab. Nah lo, sedemikian tingginya agama menempatkan birrul walidain dalam tempat yang istimewa. Menjadi kewajiban bagi seorang anak untuk berbakti dan berbuat baik. Kalau gak, menjadi azab yang menyulitkan hidupnya sendiri. Kunci sukses dalam dunia dan akhirat adalah berbakti pada ibuk dan bapak.
Nabi diutus di dunia bukan untuk berseru kepada umat untuk menjadi kaya, berlembaga tetapi untuk menyempurnakan akhlak. That's point ! kerusakan moral di bumi nusantara yang semakin menjadi-jadi adalah karena imbas bobroknya akhlak. Tidak cuma dari kalangan remaja, bahkan orang dewasa berpangkat bersarjana pun banyak yang melampaui batas-batas norma. Hal ini karena pendidikan akhlak yang tidak diberikan, atau tidak diamalkan.
Kesibukan yang baik itu lebih baik dari daripada tidak ada kesibukan. Karena pada dasarnya, manusia kalau tidak disibukkan dengan sesuatu yang baik, waktunya akan tergunakan oleh hal-hal yang buruk. Kata "tergunakan" mungkin saja dalam karena seseorang itu tidak sadar bahwa waktunya tiba-tiba hilang dengan sendirinya, ironisnya untuk sesuatu yang tercela. Alhamdulillah satu tahun penuh adaptasi, menguras energi, menguras hati (galau tingkat tinggi) sudah terlalui. Kegiatan sibuk insyAllah ini semoga membawa saya menuju ke arah yang lebih baik dari tahun sebelumnya dimana masih itu-itu saja. Senin-Selasa kuliah di semarang, sorenya pulang. Rabu pagi sudah harus dinas ngajar di MTs-MAS Tahfidz Yanbu' Menawan. Kamis dan Ahad Sore ganti ngajar Diniyyah di Madin Mazroatul Ulum, Madinnya Yi Khamid. Itu masih belum Malam Jumat nya untuk kumpulan rutin. Alhamdulillah :)
Ramadhan 1436 H telah usai, kali ini tiba acara dimana saya, Mbak Yulia dan suaminya, Mas Barri dan adik saya, Nova berkunjung ke beberapa sanak saudara dari keluarga Ibuk. Waktu itu pukul 16.00 WIB tepat pada 2 Syawal, kami bersilaturahim ke rumah Pak Ali Usman. Beliau ini adalah kepala Madrasah dimana Mbak Saya dulu ngajar sebelum mbak memutuskan untuk mundur terhitung 2 bulan dari ini, karena mau ikut suaminya ke Semarang. Kami bersalaman sebelum Abah (biasa Mbak menebutnya) mempersilahkan duduk. Dengan menyungging senyumnya, Abah ngalor ngidul bercerita banyak tentang pengalaman hidup yang pada akhirnya saya sadur beberapa petuah-petuahnya.
Cobaan terberat seorang manusia yang mau berbakti kepada Orang tuanya adalah ketika Orang tuanya sakit. Mak jleb ! karena posisi kami sekeluarga memang lagi banyak cobaannya, Ibuk dan Bapak berulang kali kontrol dan dibawa ke RS Kariyadi Semarang. Abah menceritakan dulunya ketika Ibuk beliau sakit, tidak bisa jalan, beliau sendiri yang membopongnya. Sangat berat ! kata beliau....tapi harus
Ikhlas dalam birrul walidain itu sulit, tapi kalau gak ikhlas, jadi azab. Nah lo, sedemikian tingginya agama menempatkan birrul walidain dalam tempat yang istimewa. Menjadi kewajiban bagi seorang anak untuk berbakti dan berbuat baik. Kalau gak, menjadi azab yang menyulitkan hidupnya sendiri. Kunci sukses dalam dunia dan akhirat adalah berbakti pada ibuk dan bapak.
Nabi diutus di dunia bukan untuk berseru kepada umat untuk menjadi kaya, berlembaga tetapi untuk menyempurnakan akhlak. That's point ! kerusakan moral di bumi nusantara yang semakin menjadi-jadi adalah karena imbas bobroknya akhlak. Tidak cuma dari kalangan remaja, bahkan orang dewasa berpangkat bersarjana pun banyak yang melampaui batas-batas norma. Hal ini karena pendidikan akhlak yang tidak diberikan, atau tidak diamalkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar