Tentang dua hal yang (mungkin) datangnya tidak selalu sama. Passion adalah kesenangan, sedangkan momentum adalah kesempatan. Confusius bilang, bekerjalah menurut passion, sehingga kamu bisa bekerja dengan perasaan seperti tidak bekerja. Dengan passion, hasrat seseorang tidak akan mati. Passion adalah gairah. Passion adalah semangat.
Baru-baru ini, Huffington Post menuliskan sebuah artikel bahwasanya "Follow your Passion" adalah saran yang buruk. Kontradiksi dengan apa yang biasa terjadi, karena biasanya dalam seminar-seminar seringkali digembar-gemborkan temukan passion anda, nikmati hidup sesuai passion anda, Pilihlah pekerjaan yang sesuai passion. dan lain sebagainya. Menjadi seakan-akan mengikuti passion adalah pilihan yang keliru. Padahal memang hidup katanya membutuhkan passion. Tetapi, apa manusia bisa hidup dengan passion saja?
Menarik untuk dikaji, karena sekali anda menemukan passion, itu akan menjadi bagian dari hidup anda. Penekanannya, tidak semua passion marketable dan tidak semua passion menjamin anda untuk bisa bertahan menjadi manusia seutuhnya. Beda pembahasan dengan momentum. Orang bilang, jangan pernah menyia-yiakan kesempatan, karena kesempatan tidak akan pernah datang dua kali dalam hidup. Momentum adalah kesempatan, yang mungkin saja, ketika membiarkannya bak burung yang terbang dari sangkarnya, momentum itu tidak pernah kembali lagi pada kita.
Nah, dua hal ini jelas akan selalu tersaji ketika seseorang yang sudah berusia separuh baya memulai lembaran baru dengan berkutat dalam pencarian kerja. Sebagai medium mata pencahariaan, akan ada banyak pertimbangan-pertimbangan disaat seseorang mau memutuskan untuk menjatuhkan pilihan pada satu jenis pekerjaan. Ironinya, antara passion dan momentum kadangkala menjadi dua hal yang saling berlawanan. Ada golongan orang yang menganut paham idealis dengan mengkoar-koarkan bahwa pekerjaan harus sesuai dengan passion. Orang yang idealis memang cenderung punya dignity yang membedakan dari manusia kebanyakan, tidak seperti orang-orang yang hanya mengikuti arus saja. Tapi disisi lain, ada sekelompok marjinal yang percaya pada momentum adalah cara terbaik yang dilukiskan untuk menjalani kehidupan. Orang yang percaya pada momentum nampak sangat menghargai dan tidak menyiakan sedikitpun segala hal yang hadir dalam hidup. It's okay, semuanya punya pandangan masing-masing.Tetapi bagi saya, saya lebih condong untuk menjadi bagian kelompok yang kedua. Karena setidaknya saya tidak kehilangan passion ketika saya memilih momentum, karena misalkan passion saya adalah sepak bola, saya masih bisa menikmatinya meskipun tidak menjadi pelaku utama, passion saya adalah musik, saya masih bisa menyalurkannya, meskipun tidak semua orang mengetahuinya, passion saya adalah menulis, saya masih bisa melakukannya, meskipun tidak ada satu pun penerbit yang mau memberikan tanda tangan kontraknya sebagaimana penulis profesional. Selicik-liciknya, saya tidak kehilangan salah satunya. Namun, ketika saya memilih passion, saya kehilangan momentum.
Nah, dua hal ini jelas akan selalu tersaji ketika seseorang yang sudah berusia separuh baya memulai lembaran baru dengan berkutat dalam pencarian kerja. Sebagai medium mata pencahariaan, akan ada banyak pertimbangan-pertimbangan disaat seseorang mau memutuskan untuk menjatuhkan pilihan pada satu jenis pekerjaan. Ironinya, antara passion dan momentum kadangkala menjadi dua hal yang saling berlawanan. Ada golongan orang yang menganut paham idealis dengan mengkoar-koarkan bahwa pekerjaan harus sesuai dengan passion. Orang yang idealis memang cenderung punya dignity yang membedakan dari manusia kebanyakan, tidak seperti orang-orang yang hanya mengikuti arus saja. Tapi disisi lain, ada sekelompok marjinal yang percaya pada momentum adalah cara terbaik yang dilukiskan untuk menjalani kehidupan. Orang yang percaya pada momentum nampak sangat menghargai dan tidak menyiakan sedikitpun segala hal yang hadir dalam hidup. It's okay, semuanya punya pandangan masing-masing.Tetapi bagi saya, saya lebih condong untuk menjadi bagian kelompok yang kedua. Karena setidaknya saya tidak kehilangan passion ketika saya memilih momentum, karena misalkan passion saya adalah sepak bola, saya masih bisa menikmatinya meskipun tidak menjadi pelaku utama, passion saya adalah musik, saya masih bisa menyalurkannya, meskipun tidak semua orang mengetahuinya, passion saya adalah menulis, saya masih bisa melakukannya, meskipun tidak ada satu pun penerbit yang mau memberikan tanda tangan kontraknya sebagaimana penulis profesional. Selicik-liciknya, saya tidak kehilangan salah satunya. Namun, ketika saya memilih passion, saya kehilangan momentum.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar