Sampai pada malam 25 Ramadhan itu, musholla ini belum memperlihatkan tanda-tanda keseriusan merancang karya apa untuk takbir keliling nanti. Bukan perkara mudah kalau kita berurusan dengan ide, meskipun kalau bicara pengalaman, orang-orang di musholla ini tergolong orang yang high creative skill dengan berbagai pikiran mbuletnya. Sampai suatu waktu, Mbah Kaji Jamari sempet-sempetnya menanyakan gerangan apa yang membuat kami belum memulai pengerjaan proyek ini, apa mungkin ada konflik dengan pengurus dan lain sebagainya.
Tidak ada banyak ruang bagi kami sekarang dibandingkan beberapa tahun lalu. Kekompakan memang masih terjaga. Kualitasnya yang tidak sama. Dulu, sekumpulan remaja musholla adalah anak-anak muda dengan darah muda yang rame ing gawe sepi ing pamrih. Sekarang, momentum satuan waktu yang menggerus dengan menempatkan masing-masing dari anggotanya bukan lagi orang yang bebas untuk pergi dari rumah di tiap malam. Mereka sudah banyak yang berkeluarga, apalagi yang sudah punya momongan.
Maka setting cerita ini pun sudah bisa tertebak sederhana. Dengan ala kadarnya, waktu yang sepintas saja dan orang-orang yang terbatas. Dalam 2 malam, pengerjaan karya sudah bisa dibilang selesai tapi tak sempurna. Menyesuaikan tema "Matikan TV, ayo Mengaji", musholla ini menampilkan turutan, kitab baca Al-Quran dan huruf Hijaiyah model kuno. Sempet kami berpikir kalau ini adalah karya yang langka, unik dan tidak ada kafilah musholla lain yang menyamainya. Tapi, jebul tak dinanya, sudah ada musholla lain yang menyelesaikan lebih dulu karya persis turutan ini, laaaaah....
Mas Jikan
Pagelaran pun dimulai, tidak ada satu pun warga musholla yang berpikir kami bisa menenteng piala layaknya 2, 3 tahunan lalu. Bisa pasrah karena dengan kenyataan persiapan sesederhana itu, karya yang sesederhana (ngeprint benner, ya elah), kami tidak berharap banyak. Tapi, kenyataan selalu memberi kejutan. Kami masih bisa memegang piala. Juara 2 Takbir Keliling Desa Wates Tahun 2016. Congratulation, guys.
Tidak ada banyak ruang bagi kami sekarang dibandingkan beberapa tahun lalu. Kekompakan memang masih terjaga. Kualitasnya yang tidak sama. Dulu, sekumpulan remaja musholla adalah anak-anak muda dengan darah muda yang rame ing gawe sepi ing pamrih. Sekarang, momentum satuan waktu yang menggerus dengan menempatkan masing-masing dari anggotanya bukan lagi orang yang bebas untuk pergi dari rumah di tiap malam. Mereka sudah banyak yang berkeluarga, apalagi yang sudah punya momongan.
Maka setting cerita ini pun sudah bisa tertebak sederhana. Dengan ala kadarnya, waktu yang sepintas saja dan orang-orang yang terbatas. Dalam 2 malam, pengerjaan karya sudah bisa dibilang selesai tapi tak sempurna. Menyesuaikan tema "Matikan TV, ayo Mengaji", musholla ini menampilkan turutan, kitab baca Al-Quran dan huruf Hijaiyah model kuno. Sempet kami berpikir kalau ini adalah karya yang langka, unik dan tidak ada kafilah musholla lain yang menyamainya. Tapi, jebul tak dinanya, sudah ada musholla lain yang menyelesaikan lebih dulu karya persis turutan ini, laaaaah....
Rentetan Piala
Mas Bambang
Mas Mono The Legend
Mas Jikan




Tidak ada komentar:
Posting Komentar