Manusia pada hakikatnya adalah tidak ada, karena terdapat yang ada. Yang ada dalam hal ini bebas untuk menciptakan dan memunculkan apa yang diadakan. Sejak saat itu, manusia adalah ada. Jadi, manusia diadakan oleh yang ada. Yang ada sebelum kata ada itu ada. Kita mengenal kata ada karena ada yang ada. Kita mengenal kata tidak ada karena ada yang ada. Maka semua adalah ada.
Contohnya adalah gelas yang berisi air kosong. Gelasnya ada, airnya tidak ada. Kosongnya air itu ada. Atau pada kalimat agus tidak di masjid. Agusnya tidak ada, tidak dimasjidnya itu ada.
Dalam realitasnya, akan ada sesuatu yang ada itu selamanya, abadi, dan mampu berdiri sendiri. Kita sering menggunakan kata aku, kamu dan dia untuk kata ganti yang melekat pada seseorang. Misal aku agus. Kata aku itu ada untuk agus, agus itu ada di kata aku dan kata aku menjelaskan agus. Pada suatu waktu, kata aku tersebut berganti menunjuk bukan ke agus ketika digantikan oleh nama orang lain yang mengikutinya. Jadi kata aku itu ada untuk agus tetapi bukan yang ada selamanya. Atau ketika agus sudah tidak ada, maka kata aku menjadi tidak ada untuk agus.
Berikutnya juga dengan kata kamu dan dia. Kamu yang naik sepeda bernama agus. Kamu yang naik sepeda itu ada, dan yang ada itu agus. Ketika agus tidak naik sepeda, maka kamu itu tidak ada untuk menjelaskan itu agus. Dia Agus. Ketika diganti orang lain, maka kata dia menjadi tidak ada untuk agus. Berarti antara agus dan dia bukanlah pasangan yang selamanya.
Kita mencari yang selamanya, yang ada sebelum kata ada itu ada. Tentu yang demikian adalah Tuhan yang mengadakan sesuatu menjadi ada. Dia yang selamanya, abadi dan berdiri sendiri. Jadi pada hakikatnya, kata aku, kamu dan dia yang pantas mengikuti adalah Tuhan. Sehingga dalam Al-Qur'an terdapat banyak kalimat Laailaahailla ana, Laailaahailla anta, Laailaahailla huwa.
Jadi, kalau misalkan kita punya motor, sehingga kita bilang ini motorku, patut kita cermati kata ku itu apakah memang ada untuk kita yang punya motor, apakah selamanya, tidak bukan?kesimpulannya kita tidak boleh sombong dengan apa saja yang kita miliki karena pada hakikatnya semua itu diadakan oleh yang ada, sedangkan kita bukanlah yang ada, kita hanya diadakan oleh yang ada. Jadi apa-apa yang ada di kita atau yang kita miliki sejatinya hanyalah diadakan untuk kita oleh yang ada.
Dalam sebuah riwayat termasyhur pada sejarah islam di tanah Jawa, tersebutlah Syekh siti jenar dengan ajaran Manunggaling kawulaning gusti. Dia mengatakan Aku Tuhan. Dalam konteks kalimat Aku Tuhan, kesejatian kata aku telah terlukis bahwa kata aku memang melekat satu-satunya ke Tuhan. Pada waktu tersebut, kalimat ini dianggap aurat yang tidak boleh ditampakkan karena banyak dari orang-orang akan tidak siap.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar