Karena saya kuliah di jurusan Biologi, maka sedikit banyak yang terlahap selama kurang lebih 4 tahuanan ini adalah tentang anatomi tubuh manusia. Dalam sebuah mata kuliah, ada yang bernama anatomi dan fisiologi, mata kuliah ini berbicara luas bukan hanya pada manusia, tetapi anggota kelas mamalia lain yang mana notabene secara struktur tubuh bagian dalamnya tidak lebih berbeda.
Jadi, ketika ditanya dimana letak organ hati, jantung atau pun otak, saya bisa lugas menjawabnya. Bahkan ketika pun ditanya bagaimana strukut jantung manusia dan kelas di luar mamalia, misalkan buaya, saya bisa detail menjelaskan perbedaanya. Begitu juga dengan otak yang berada di kepala. Sampai pada pertanyaan dimana letak akal?
Saya masih keras untuk menjawabnya. Apakah sama otak dan akal?. Otak itu perintah aktivitas, sehingga otak dijabarkan merupakan komponen dalam sistem saraf pusat yang mengatur segala proses aktivitas tubuh yang dikendalikan oleh sel saraf. Saya pun masih belum menyerah untuk mengetahui definisi yang menyebutkan otak dan akal. Dalam otak manusia dibagi menjadi otak besar, tengah dan kecil. Otak besar terdapat beberapa lobus salah satunya yang terletak paling depan adalah lobus frontalis, tempat pusat berpikir. Apakah ini jawabannya?berarti otak itu adalah akal?
Namun, ketika demikian semua hewan memiliki otak, tetapi kenapa dia tidak bisa dikatakan berakal. Jadi sebenarnya dimana letak akal tersebut?. Anugrah yang besar yang diberikan Allah SWT kepada manusia adalah akal yang dapat digunakannya berpikir sehingga ditetapkan manusia adalah pemimpin di bumi. Dalam bahasa arab, terdapat ungkapan yang terkenal "Al insaanu hayawaan naatiq" yang kurang lebih berarti manusia adalah hewan yang berakal. Kalau kita tarik presisi dari kata tersebut, berarti konklusinya manusia yang tidak menggunakan akalnya sama halnya dengan hewan. Ini menjadi penekanan bahwa akal merupakan struktur penting dalam anatomi manusia sehingga mampu menciptakan peradaban yang lebih maju dari makhluk ciptaan Allah lainnya. Sudah sepatutnya manusia menggunakan akalnya untuk mencari hakikat dan kebenaran. Dalam hal ini, ada ancaman serius bagi orang-orang yang tidak menggunakan akalnya.
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan
dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak
dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai
mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan
Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya
untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak,
bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
(7: 179)
Jadi, yang sebenarnya perlu saya ributkan itu bukan pada lagi pada masalah letak akal dalam tubuh manusia, tetapi sudah berapa sering menggunakan akal tersebut?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar