Pages

Ketidaksetaraan

Semua orang memiliki keinginan untuk dianggap sama, untuk dianggap setara. Bahkan konsep ini juga menyinggung perihal adanya emansipasi wanita yang interpretasinya antara laki-laki dan wanita adalah sama. Padahal secara hakikatnya tidak benar-benar sama.
Boleh jujur ataupun cuma membenarkan opini, sebenarnya dalam semua hal, tidak ada yang benar-benar setara.  Perdebatan Lionel Messi yang sebagian besar jumhur analis sepakbola menganggap setara dengan Diego Armando Maradona boleh kita bilang tidak mungkin, disisi mereka tidak berada pada satu zaman, dan  karena salah satu dari mereka pasti akan mengungguli yang lain. Meskipun tidak mungkin kita mengadunya dalam satu arena, tanpa menyimpulkan mana yang lebih baik, kita sepakat, mereka adalah salah satu yang terbaik dari yang pernah ada.


Dalam dunia religiusitas, kesetaraan itu hakiki karena kesemuanya adalah makhluk ciptaan Tuhan. Konsep setara yang sebenarnya dipegang adalah kesempatanya untuk melakukan apa yang terbaik yang bisa dia lakukan terhadap Tuhan yang menciptakannya. Bukan pada substansi yang melekat pada orangnya, Dalam hisab penentuan kamu masuk surga atau neraka, itu ditentukan dengan seberapa bobot apa yang kamu lakukan untuk bisa memasuki gerbang diantara keduanya, seberapa iman, seberapa taqwa, seberapa maksiat, seberapa dusta dan lain-lain yang mungkin akan menghambat jalan orang tersebut menuju apa yang dituju. Tapi  untuk kesempatan yang diberikan, kita sepakat semua adalah sama.



Bukan untuk mengurai masalah, konsep kesetaraan wanita dan laki-laki juga perlu masuk dalam kajian berpikir secara ilmiah. Banyak pandangan menegaskan sebenarnya tidak ada sekat antara laki-laki dan wanita. Wadah pemikiran yang semacam ini tidaklah benar karena sebenarnya makna setara itu dalam hal apa dulu. Padahal secara peranan sudah harus dibedakan. Dalam dunia keluarga, kita perlu membedakan peran yang sebenarnya  memiliki kewajiban mencari nafkah itu siapa, yang berhak mengatur, yang membuat masakan, yang momong anak itu siapa dan lain sebagainya. Bukan superioritas mana yang lebih unggul tetapi konsep setara yang dimaksud harus jelas. Kita sepakat mereka diperlakukan setara, tetapi sesuatu apa yang ada dalam jiwa laki-laki tidaklah ada pada wanita, maka perlu kita eksploitasi sesuatu yang melekat tersebut untuk melaksanakan perannya sesuai apa yang sudah dibebankan. Begitu juga sebaliknya. Ini baru tentang laki-laki dan wanita, ini baru tentang keluarga, dan sebenarnya masih banyak aspek yang selalu memperdebatkan antara setara-ketidaksetaraan
Baiknya lebih baik kita bersepakat untuk menerima ketidaksetaraan itu pasti ada dan tidak ada yang benar-benar setara. Dalam membangun rumah pun demikian, ada genteng, ada tembok, ada lantai semuanya tidak setara, tidak sama. Untuk menjadi sebuah rumah yang utuh, kita perlu sepakat kita membutuhkan ketidaksetaraan tersebut, mereka harus menjadi satu tetapi bukan kita butuh satu saja. Tidak akan menjadi sebuah rumah apabila komponennya setara, misal tembok semua.

Muhammad Irsyad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar