Kondangan di Purbalingga
Ketika bertemu di Kudus, beberapa bulan kemudian
Waktu itu, Dede baru saja pasang status IG mengenai persiapan hari bahagianya. Masih kurang sekitar 2 bulanan. Iseng saja saja menanyakan bagaimana kabarnya, karena setelah sama-sama selesai dan masing-masing membawa pulang gelar sarjana, kami cukup lama tidak saling berkomunikasi. Pada akhirnya, kesibukan memangkas setiap waktu dan kebersamaan sehingga kita menjadi yang sampai di titik ini, dewasa.
28 Maret 2019. Segala persiapan sudah disiapkan. Dimulai dari mencari driver, karena belum pernah ke purbalingga, saya menghubungi salah satu siswa saya dulu yang asli purbalingga, dan masih domisili di Kudus. Imdad namanya. Namun, agak jadi dilema karena dia perlu ijin sama Ustadz Pondoknya. FYI, ustadz nya juga salah satu teman saya dulu di kantor. Dia gak enak minta ijinnya, akhirnya saya yang mengusulkan untuk memohon ijin. Awalnya, ustadz nya tidak mengijinkan. Maka, saya bawa opsi kedua, mengubungi siswa saya dulu yang sering nganter kegiatan lomba, Faqih namanya. Sehingga, bayangan saya, yang nanti mengantakan ke purbalingga adalah Faqih. Beberapa hari kemudian, Imdad menghubungi saya lagi karena dia mau pulang ke purbalingga. Kalau seperti itu, juga akan baik karena bisa gantian nyopirnya, antara imdad dan Faqih. Saya putuskan keduanya berangkat.
Kemudian, yang selanjutnya mengajak teman. Ada banyak teman yang saya ajak, teman kost, kelas atau yang hanya sekedar ngumpul main saja. Satu-satunya orang yang hampir selalu mengatakan bisa disaat yang lain tidak, adalah Fery Subakti. Maka, kita janjian untuk bertemu di semarang. Fery naik bis dari Yogyakarta siang harinya, karena pagi masih ada kewajiban mengajar. Maka. saya sudah mempersiapkan diri untuk berangkat dari kudus siang hari. Walhasil, sambil menunggu kedua driver saya tadi, hujan turun dengan lebatnya, membuat sinyal kehilangan kekuatannya. Saya kehilangan kabar dengan Faqih, sedangkan di satu sisi, Fery sudah hampir sampai di semarang. Saya putuskan untuk meninggalkan Faqih dan berangkat dengan Imdad seorang. Kita masih melaju sampai di kampus UNISSULA Semarang. Disini, kami menunggu kedatangan Fery. Setelah beberapa menit, akhirnya Fery datang.
Perjalanan kami terhenti beberapa kali untuk makan dan istirahat sejenak, sehingga sampai di Purbalingga larut tengah malam. Awalnya, kami menerima ajakan Ayahnya Imdad untuk menginap bermalam di rumahnya, namun dilarut malam tersebut, dede masih terjaga menunggu kami. Akhirnya, kami memutuskan untuk bermalam di tempatnya dede, di tempat pengantin untuk keesokan harinya, dengan Imdad tentunya. Sampai disana, kami disambut dengan secangkir kopi hitam hangat.
Pernikahan dede menjadi awal bagi kami bertiga memulai hidup dan perjalanan baru, karena beberapa bulan kemudian, Fery juga melepas lajang. Namun sayangnya, pernikahannya diadakan di Pulau Sumatra, Bengkulu. Sehingga, kami tidak bisa membalas unuk berkunjung ke acaranya. Kemudian, beberapa bulan berikutnya, saya yang mendapatkan kejutan dengan kedatangan mereka berdua. Meskipun, ketika pulang, ada drama yang terjadi. Selamat mengawali hari dan kehidupan baru, teman. Selalu ada doa yang terbaik untuk kalian, Dede Yuwono dan Fery Subakti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar